Theme images by Igniel

Report Abuse

8 Buku Karya Pramudya Ananta Toer

Post a Comment

Pramoedya Ananta Toer (lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 – meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun), secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing.

1. Bumi Manusia

Bumi Manusia adalah buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980. Buku ini ditulis Pramoedya Ananta Toer ketika masih mendekam di Pulau Buru. Memiliki ketebalan Buku sekitar 553 lembar, novel ini juga diangkat menjadi film karya falcon picture yang ditayangkan di netflix.

2. Anak Semua Bangsa

buku kedua dari seri Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Beberapa bulan setelah terbit pada 1981, buku ini bersama buku Bumi Manusia dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung. Melanjutkan kisah kehidupan tokoh utama, Minke, dan ibu mertuanya, Nyai Ontosoroh. Dengan menggambarkan kehidupan dua orang yang tinggal di pulau Jawa yang dikuasai Belanda ini, Pramoedya mampu membahas banyak aspek kehidupan di negara yang terjajah. Child of All Nations mengeksplorasi hierarki sosial di negara terjajah dengan memberikan sekilas bagaimana masyarakat terjajah yang tertindas, seperti petani Jawa, dituntut untuk tunduk pada penjajah mereka, Belanda.

3. Jejak Langkah

Jejak Langkah adalah novel ketiga dalam tetralogi Buru Quartet karya pengarang Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Tetralogi ini memvisualisasikan kehidupan Tirto Adhi Soerjo, seorang bangsawan Indonesia dan jurnalis perintis.

4. Rumah Kaca

Rumah Kaca merupakan novel keempat sekaligus penutup dari Tetralogi Buru yang ditulis oleh Pramoedya Anata Toer. Dibandingkan ketiga pendahulunya yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah, terdapat perbedaan yang cukup mencolok pada Rumah Kaca karena tidak mengambil Minke atau Tirto Adhi Soerjo sebagai tokoh utama. Dalam buku ini, diperlihatkan bagaimana usaha pemerintah kolonial Belanda dalam memukul aktivitas Minke yang merupakan salah satu tokoh pergerakan nasional, melalui operasi mata-mata, serta pengarsipan yang rapi dan sistematis. Pramoedya mengistilahkan politik arsip ini sebagai kegiatan pe-rumahkaca-an.

5. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu merupakan kumpulan catatan yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Kumpulan catatan ini merupakan karya Pramoedya yang berjenis non-fiksi. Buku ini merupakan sebuah dokumen sosial tentang pengalaman Pramoedya sekaligus bagian dari pengalaman bangsa. Buku ini disusun dari catatan-catatan Pramoedya Ananta Toer semasa dalam tahanan di Pulau Buru.

6. Gadis Pantai

Bercerita ​di sebuah desa nelayan pesisir yang miskin, seorang gadis cantik tanpa sadar menarik perhatian seorang bangsawan setempat. Sebelum dia menyadarinya, dia dipaksa untuk menikah dengan pria yang belum pernah dia lihat dan meninggalkan semua yang dia kenal – hari-harinya yang santai dihabiskan membantu ibunya dengan tugas sehari-hari, sambil melamun mendengarkan suara angin dan ombak, dan menyaksikan perahu datang dan pergi. Dia dibawa pergi ke rumah suaminya di kota dan terjun ke dunia yang aneh kemewahan dan keparahan yang tenang.

7. Mangir

Menceritakan tentang Sejarah Panembahan Senapati, Raja Mataram kurun 1575-1607, yang bercita-cita menjadi penguasa tunggal, menundukkan perlawanan gigih penduduk desa Mangir dengan cara kotor dan keji. Wanabaya atau Ki Ageng Mangir, pemimpin desa yang letaknya kurang 20 km dari Ibukota, dirayu putri kesayangan Senapati, dijebak, dan kemudian dibunuh dalam sebuah pertemuan keluarga.

8. Korupsi

Sesuai judulnya kita semua paham, menceritakan berkaitan bagaimana sebuah korupsi yang merupakan kejahatan luar biasa. Buku yang ditulis pada tahun 1952 menceritakan bagaimana seorang pegawai negeri yang hidup dalam kemiskinan, namun setelah bekerja selama bertahun-tahun belum mencapai kekayaan yang di inginkan.

 

Mungkin hanya beberapa persen saja masyarakat yang mengetahui karya beliau yang begitu luar biasa dalam perkembangan sastra Indonesia. Sampai sekarang terdapat perpustakaan yang dikelola oleh adik beliau, berada di desa Jetis, Blora, Jawa Tengah. Di perpustakaan ini semua orang gratis membaca dan bisa menginap dirumah sekaligus sebagai perpustakaan.

AngryB
Hello world

Related Posts

Post a Comment